![]() |
Puncak Lawu 2006 |
“Nah,
sekarang baca bait pertama dari kitab Alaa
laa yang kalian pegang!”, suruh Kang Jupri selaku Ustadz Diniyyah malam.
Santri
diniyyah kelas B yang berjumlah empat belas orang pun bersama-sama membaca bait
pertama dengan lagu yang biasa mereka nyanyikan.
“Elingo dak kasil ilmu anging nem
perkoro. Bakal
tak ceritaake kumpule kanti pertelo.
Rupane limpat loba
sobar ono sangune. Lan
piwulange guru lan sing suwe mangsane”, baca
mereka serentak.
“Cukup
!”, kang Jupri memberi aba-aba diam pada kelas B. “Ada yang tahu maksudnya?”,
tanya kang Jupri memandang santri satu persatu.
Suasana
kelas hening. Tampak dua santri yang duduk paling belakang saling jawil. Khoirul yang duduk di samping
kanan nomor dua dari depan tampak menggaruk-garuk kepala. Mungkin saking
bingungnya dengan bahasa aneh yang ia dengar. Maklum, dia santri yang datang
jauh dari Sumatra untuk mondok di sini.
“Tidak
ada yang tahu?”, kang Jupri bertanya sekali lagi memastikan. Perlahan ia
menarik nafas dalam-dalam. “Jadi, arti dari bait yang kalian baca itu tadi
seperti ini. ‘Ingatlah!
Tidak akan kalian mendapatkan ilmu
yang manfaat kecuali dengan enam syarat. Apa
saja itu? Yaitu
: cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk ustadz, dan waktu yang lama.”
“Kang
maksudnya ilmu yang manfaat itu yang bagaimana kang? Dan cerdas itu, cerdas
yang seperti apa kang?”, tanya Faisal yang memotong penjelasan kang Jupri
sambil mengangnkat tangan.
“Oh
ya, pertanyaan bagus Faisal. Jadi, Ilmu
yang manfaaat adalah ilmu yang bisa mengantarkan pemiliknya pada ketakwaan kepada
Allah Subhanahu
Wata’ala. Ilmu itu adalah Nur Ilahi yang hanya diperuntukkan
bagi hamba-hambaNya
yang soleh atau sholehah. Jadi tidak sembarang orang yang bisa
mendapatkan ilmu yang manfaat. Paham kan?”, jawab kang Jupri.
Sambil
mengangguk-angguk Faisal menjawab, “Paham kang, lha terus cerdasnya kang?”,
tanya Faisal kembali.
“Hehehe,
oh iya. Cerdas
di sini artinya
adalah kemampuan
untuk menangkap ilmu.
Bukan berarti IQnya harus tinggi, walaupun dalam mencari ilmu IQ
yang tinggi sangat mempengaruhi,
asal akalnya mampu menangkap ilmu, berarti dia sudah memenuhi syarat pertama
ini.
Berbeda dengan orang gila atau orang yang
idiot
yang memang akalnya sudah tidak bisa menerima ilmu. Namun perlu diingat! Bahwa kecerdasan itu
bukanlah sesuatu yang tidak bisa
meningkat. Kata orang-orang tua
kita, akal kita itu laksana pedang,
artinya semakin
sering diasah dan dipergunakan maka pedang akan semakin mengkilat dan tajam. Beda
kalo hanya didiamkan, pedang itu akan
karatan dan tumpul. Begitu pula dengan akal kita, semakin sering dibuat untuk
berfikir dan mengaji,
maka akal kita akan semakin tajam daya tangkapnya, dan bila dibiarkan maka
akan tumpul
dan tidak akan mampu
menerima ilmu apapun juga. Bagaimana? Bisa diterima Faisal?”
“Injih[1]
kang.”, Faisal tersenyum menatap kang Jupri.
“Lha
kalo semangat itu maksudnya apa kang?”, tanya Sahri tiba-tiba tanpa mengangkat
tangan.
“Ya?
Siapa tadi yang bertanya?”, kang Jupri memandang mencari santri yang bertanya.
Sahri
mengacungkan tangannya. “Saya kang.”, jawab Sahri.
Kang
Jupri tersenyum melihat Sahri. “Oh ya Sahri. Semangat di sini itu artinya sungguh-sungguh dengan
bukti ketekunan.
Orang yang mencari
ilmu tanpa adanya rasa semangat
dan ketekunan tidak akan menghasilkan apa-apa atau
kurang maksimal. Apalagi
itu ilmu agama,
ilmu agama itu
sesuatu yang mulia yang tidak akan dengan mudah bisa didapatkan
tanpa adanya semangat dan tekun. Oleh karena itu, banyak orang mencari ilmu, tapi yang berhasil sangat
sedikit dibanding yang tidak berhasil. Kenapa? Ya karena mencari ilmu itu sulit,
apa yang kemarin dipelajari dan dihafalkan
belum tentu sekarang masih bisa hafal. Padahal apa yang dihafal kemarin masih
berhubungan dengan pelajaran hari ini. Akhirnya pelajaran hari inipun berantakan
karena hilangnya pelajaran kemarin, maka
tanpa kesemangatan dan ketekunan sangat sulit untuk kita mendapatkan apa yang
seharusnya kita dapatkan dalam Tholabul
‘Ilmi.
Paham kan?”, jawab kang Jupri sembari bertanya balik pada Sahri.
“Iya
kang paham. Makasih jawabannya kang.”, jawab Sahri sambil melempar senyum. Kang
Jupri pun membalas senyum.
Waktu
menunjukkan pukul sembilan malam, suasana di daerah pondok masih terlihat rame
dengan adanya diniyyah malam. Di serambi masjid sebelah selatan, kelas A
terlihat sudah bubar dengan keluarnya ustadz yang mengajar di kelas. Di serambi
sebelah utara, tepatnya kelas yang dekat bawah menara, mereka tampak begitu
memperhatikan ustadz yang menerangkan pelajaran Nahwu. Memang, pelajaran ilmu
Nahwu itu harus membutuhkan pemahaman luas dan memperhatikan dengan benar
ustadz yang menerangkan.
Kang
Jupri melihat jam tangannya yang melingkar di pergelangan kiri. Dua santri yang
di belakang tampak tersenyum-senyum bahagia menafsirkan bahwa pelajaran akhlaq
diniyyah malam ini akan segera selesai.
“Kang
Jupri, terus maksud dari sabar, biaya, petunjuk ustadz, dan waktu yang lama,
itu apa kang?”, Khoirul angkat bicara karena penasaran dengan syarat
mendapatkan ilmu yang manfaat selanjutnya.
“Waktunya
sebentar lagi habis Irul. Kita lanjutkan minggu besok ya pelajaran kita.”,
jawab kang Jupri dengan senyum lembut.
“Waaah….
Waaaaah…. Waaaaah”, suara santri kelas B tampak kecewa karena waktu pelajaran
hampir habis. Dua santri yang di belakang terlihat cengengesan[2]
merdeka.
“Ndak
papa, semoga kita diberi umur sampai minggu depan untuk membahas pelajaran ini
ya?”, tenang kang Jupri pada kelas B.
“Injiiih
kaaaang !”, jawab santri
serempak.
Pelajaran
akhlak kitab Alaa laa di serambi tengah pun berakhir dengan kang Jupri memberi
salam. Santri kelas B pun saling berebut salam dengan kang Jupri sebelum
meninggalkan kelas. Rembulan di atas sana menyaksikan kebahagiaan mereka
belajar akhlak. Gemintang yang sedari tadi mengintip, berkedip-kedip tanda
riang gembira. Semilir angin malam ini pun tak berani lantang berhembus menyapa
tubuh para santri.
Di
kamar, Faisal tampak sedang membolak-balik kitab Alaa laa, mulutnya komat-kamit
seperti sedang menghafal sambil merem-melek.[3]
“Lagi apo kau Sal? Macam orang kesurupan ajo kau nih[4]
di pojok seperti itu.”, tanya Khoirul penasaran dengan tingkah Faisal dengan
logat Melayu Sumatra.
“Ini
aku sedang menghafal bait pertama sampai bait lima kitab ini.”, jawab Faisal
sambil menunjukkan kitab Alaa laa.
“Widih…
mau jadi suri tauladan lah kau? Bagus lah kalo macam[5]
tu.”, ledek Khoirul pada Faisal.
No comments:
Post a Comment