Friday, 14 December 2012

Ajaran Wayang dan Budaya Jawa untuk Manusia Indonesia


Lima ajaran pokok tentang kebenaran yang diajarkan dalam lakon wayang adalah :

1. Manembah (menyembah kepada Tuhan Yang maha Esa dan Kuasa)
2. Menepi (sabar, instropeksi diri, dan menghindari pertengkaran)
3. Maguru (berguru mencari ilmu pengetahuan)
4. mangabdi (mengabdi kepada keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara serta agama)
5. Makarya (bekerja tanpa pamrih untuk mencukupi kebutuhan dan mencapai kesejahteraan)

Banyak cerita dalam lakon wayang yang mengungkapkan ajaran "Jer Basuki Mawa Bea", yang artinya "siapa yang menginginkan kebahagiaan harus ada pengorbanannya". "Sapa Nandur Bakal Ngundhuh", artinya "siapa yang menanam kebaikan atau keburukan akan memperoleh hasilnya yang berupa kebaikan atau  keburukan".



Terkait dengan nilai-nilai budaya Jawa yang secara nyata memiliki pengaruh kuat dan berperan dalam kehidupan masyarakat Jawa khususnya, pembentukkan dan peningkatan watak sangat dibutuhkan agar tercapai kualitas manusia yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Pembentukkan dan peningkatan watak yang baik sangat penting artinya bagi pembangunan bangsa dan negara.

Fanz Magnis Suseno (1985), mengemukakan bahwa etika itu adalah upaya keseluruhan norma penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat tertentu untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya mengetahui kehidupannya.

Contoh mengenai upaya pembentukkan watak dan karakter yang baik dan jati diri yang kuat ternyata dapat diupayakan melalui media wayang kulit "PURWA" yang memiliki nilai pendidikan moral dan gambaran simbol-simbiol kehidupan yang baik maupun kehidupan yang buruk. Wayang di samping sebagai tontonan (hiburan), ternyata mengandung muatan tuntunan dan gambaran prilaku manusia, sehingga bagi masyarakat Jawa wayang dianggap sebagai contoh teladan.





Manusia yang baik menurut format etika Jawa adalah manusia yang menganut tiga prinsip, yaitu:

1. Prinsip Kerukunan
         Bertujuan agar masyarakat dalam kondisi tentram dan damai tanpa adanya konflik.
2. Prinsip Kehormatan
    Bertujuan untuk membuat harmonis hubungan antar individu dalam kelompok masyarakat demi     kepentingan bersama
3. Prinsip Keselarasan
         Bertujuan agar setiap individu menghindar dari berbagai hal yang menimbulkan perpecahan dan pertentangan demi terciptanya kondisi hidup yang tentram, damai, dan saling menghormati serta menghargai satu dengan yang lainnya.

Ketiga prinsip di atas merupakan bentuk "kautamaning ngaurip" (hidup yang utama demi terbentuknya sosok-sosok manusia utama. manusia utama adalah sosok manusia yang pandai menempatkan sisi di mana sia berada, pandai bergaul dan tak pernah merugikan serta menyusahkan sesamanya. Memiliki perilaku dan sikap yang halus serta dapat menghindari perilaku buruk. (Marbangun, 1984)



Manusia utama adalah manusia yang berperilaku sesuai dengan prinsip keselarasan yang disesuaikan dengan hakikat kodrat manusia, yaitu manusia sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Artinya adalah bahwa manusia utama adalah manusia yang memenuhi keselarasan dengan dirinya sendiri, keselarasan dengan lingkungan sekitarnya, dan keselarasan dalam hubungan dengan Tuhan Sang Maha  Pencipta.

Keselarasan terhadap diri sendiri berarti berperilaku baik dan selalu menghindari perbuatan buruk yang akan merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. Keselarasan terhadap lingkungan sosial berarti terciptanya rasa saling menghormati, tenggang rasa dan menghindari munculnya hal-hal yang akan merugikan lingkungan serta menjaga ketentraman dan kedamaian bersama. Keselarasan terhadap Tuhan berarti selalu melaksanakan segala yang diperintahklan dan menjauhi segala larangan-Nya. Manusia adalah makhluk Tuhan di bumi yang memiliki kewajiban untuk selalu menyembah-Nya.


2 comments:

  1. Ternyata dalam seni wayang terdapat pelajaran yang cukup berharga, sayang kesenian seperti ini semakin jarang ditemui

    ReplyDelete
  2. sebagai generasi penerus. Mengapa kita tidak mencoba mengembangkannya dari kepribadian kita dulu, lalu bertahap menghadirkan budaya itu dalam kehidupan. Bagaimana?

    ReplyDelete