Wednesday, 26 December 2012


kawan, inilah negeri di mana segala sesuatunya bisa menjadi nyata bisa juga cuma mimpi. di negeri ini pula apapun bisa terjadi, salah menjadi benar dan benar menjadi salah. bahwa sesungguhnya di negeri ini hanya ada dua pilihan baik atau buruk. tapi, di negeri ini pula pilihan itu menjadi tak jelas ketika telah dicampur aduk di sebuah sistem halal dan haram dalam berbangsa dan bernegara.
kawan, sebelumnya mari kita sejenak menengadahkan kepala kita ke awang uwung sembari memberikan ucapan selamat kepada agama baru yang secara de facto telah diakui oleh negara, yakni ; agama korupsi.  bahwa agama korupsi itu ada nabinya, sahabat-sahabat nabi, imamnya dan tentu ada pula ada pengikutnya (jama’ahnya). dan konon kabarnya bahwa agama baru berserta pengikut-pengikutnya itu sangat dilindungi oleh negara.
jika ada yang bertanya, kenapa korupsi dikatakan sebagai agama? ya karena ada umatnya. keberadaan mereka sangat jelas. baik itu personal, diam-diam maupun berjama’ah. jumlah jama’ah mereka pun disetiap tahunnya bertambah dengan sedemikian pesatnya. jika pengikut agama baru itu sudah sedemikian banyaknya. apakah mungkin agama baru beserta pengikut-pengikutnya bisa diberantas?
lantas, apa pula yang bisa dilakukan terhadap agama yang ternyata diam-diam telah disyahkan oleh negara?
melawan mereka?
memberontak terhadap mereka?
“hm, ente bisa apa brader?!”
jika ada upaya-upaya pemberantasan melalui upaya-upaya hukum (ancaman hukuman dan sanksi hukum) yang dilakukan oleh lembaga-lembaga peradilan (secara umum) dan komisi pemberantasan korupsi (secara khusus) saya anggap tidak lebih dari sekadar upaya menimbulkan efek jera semata. belum sampai ke titik yang paling menakutkan bagi pelaku dan calon-calon pelaku korupsi di kemudian hari.
betapa tidak ancaman hukuman dan sanksi hukum yang diberikan tersebut nyata-nyata telah sangat melukai hati nurani segenap anak bangsa yang selama ini berpihak dengan upaya penegakan hukum yang adil jujur dan berwibawa. sangat tak sebanding antara kejahatan mereka dengan sanksi hukum yang diberikan oleh penegak hukum.
so? jika kita telah tidak percaya lagi dengan lembaga penegak hukum. apakah kita (rakyat?) mesti membuat kesepakatan bersama bahwa pengikut-pengikut agama baru itu di suntik mati? di gantung di monas? di hukum pancung? di larung ke sungai yang banyak buayanya? atau?
kawan, walaupun sesungguhnya kita sudah sangat muak dan jijik dengan agama baru beserta pengikut-pengikutnya itu. namun ini negara hukum dan didirikan dengan landasan hukum yang kokoh, berkesinambungan dan berkeadilan atas nama kedaulatan rakyat. sangat tak memungkinkan kita bertindak melampaui tata atur dantraktat hukum yang berlaku di negeri ini.
tak ada salahnya jika kita memberikan kepercayaan penuh kepada aparat penegak hukum untuk memberangus agama tersebut. walaupun sesungguhnya kepercayaan kita kepada para hamba hukum untuk menegakkan hukum dengan cara yang adil, jujur dan berwibawa semakin menipis.
namun, bagaimanapun dan skeptis apapun kita melihat kemunduran penegakan hukum di negeri ini yang utama kita jangan pernah menyerah untuk tetap mengawal dan mengkritisi para hamba hukum agar senantiasa melek, dan tidak buta tuli dengan kegeraman segenap anak bangsa terhadap kebejatan moral agama korupsi itu dan segelintir pengikut-pengikutnya (koruptor).
jika di mana-mana kita berkata lantang “berani jujur itu hebat!”
maka di mana-mana pula koruptor itu akan berkata dengan lebih lantang lagi, “berani jujur itu goblok!” 
begitu seterusnya. dan inilah Indonesia Raya.
akan tetapi duhai kawan-kawanku, tetaplah bergerak. jangan pernah berhenti!
dan percayalah bahwa Sang Kausa Prima senantiasa memimpin barisan kecil ini untuk jadi pemenang.
akhirnya, kepada pejuang-pejuang di jalanan, di facebook, di twitter dan di berbagai media sosial lainnya termasuk media jurnalisme warga serta di berbagai tempat pertapaan; “bahwa, sesungguhnya lawan-lawan sekaligus musuh-musuh negara (rakyat) telah sangat jelas dan menjelaskan”.
bersiap-siaplah!!!
serambi sentul, 18/12/2012
arrie boediman la ede

No comments:

Post a Comment